Saya Lebih Suka Jadi Anonim
Karya dan si pembuatnya.
Adalah 2 hal yang selalu menentukan "bagus" Atau "enggaknya" Sebuah karya. Adalah 2 hal, yang selalu digunakan orang-orang dalam menilai sesuatu. Gak bisa dipisahin.
Lagu misalnya. Banyak yang suka karna si penyanyinya good looking atau good attitude aja. Padahal dari segi suara mah ya? biasa-biasa aja sebenernya.
Tapi kalau sebaliknya, gimana? Ada juga, tapi gak sebanyak statement yang pertama.
Ahmad Dhani contohnya.
Oang hebat ( yang menurut gua ) yang ngerasain judging by cover.
Cuma karena beda dalam berpandangan politik, semua karyanya tiba-tiba jadi nothing.
Jadi gak ada harganya gitu tiba-tiba.
Cuma karena masalah personal si pembuat karyanya, orang-orang mengabaikan betapa bagus karyanya beliau.
Buat gua sih ini lucu, ya.
Misalnya gini, di sekolah ada murid yang bandel banget. Tapi tiap ujian, nilainya bagus terus. Masa cuma karena nih murid bandel, terus semua guru gak mau ngelulusin dia disemua mata pelajaran, sih? Kan enggak. Gak fair dong kalo cara mainnya gitu.
Dan itu lah kenapa, gua paham banget alasan beberapa orang lebih memilih menggunakan nama pena ( anonim ) disetiap karya-karyanya. Biar orang-orang fokus sama karyanya aja, bukan sama sisi personal si pembuatnya. Selain biar kehidupan pribadi si pembuat karyanya tenang, juga biar nanti orang-orang bisa menilai bagus atau enggak karyanya tanpa harus melibatkan sisi personal dari pembuatnya.
Kalo bagus, ya bagus.
Kalo enggak, ya emang enggak.
Lebih adil sih buat gua, kalo tiap-tiap orang menilai sesuatu dengan cara seperti itu..












Comments
Post a Comment