Kehabisan Aksara
Jingga terperanjat. Malam sedia mengganti terangnya, biarpun terlihat samar-samar.
Di sudut jalan. Tepatnya di seberang sebuah minimarket, kudapati ia berdiri sendiri. Entah menunggu, atau sedang menikmati udara segar.
Ranti.
Seorang karyawati minimarket yang belakangan ini baru ku ketahui namanya.
Sebelum-sebelumnya kami tak pernah bertegur sapa. Jelas saja. Aku cuma beberapa kali belanja di tokonya. Tak ada kesan baik, apalagi kharisma yang biasanya ditebarkan kebanyakan pria-pria pada umumnya.
Mengetahui namanya saja, dari Id Card-nya.
Hahaha ... Kurang psikopat apa coba ini aku?
Aku yang sesekali ngopi di seberang tokonya itu pun, tak sengaja jatuh hati padanya.
Ia baik. Itu penilaianku ketika beberapa kali melihat ia memberi makan kucing liar di jalanan.
Sesederhana itu aku menitipkan hatiku padanya.
Lalu setelahnya entah apa yang membuatku sering ngopi, atau jadi sering bolak-balik ke tokonya.
Menyapanya? Tentu tidak!
Aku tidak ingin ia mengira aku ini membuntutinya.
Walau pada kenyataannya, iya! Hahaha
Akh! Sudahlah.
Apa yang membuatku yakin seorang wanita hebat seperti dia, ingin mengenalku lebih dalam? Seorang pria biasa yang bahkan untuk menyembuhkan lukanya sendiri saja, tidak bisa.










Comments
Post a Comment