Tentang Ia Yang Pergi Lalu Lupa Caranya Untuk Kembali


"Setelah apa-apa yang sudah dipunya, tetap saja. Ketika melihatmu berbahagia dengannya? Aku tetap merasa kalah.."


8 Desember 2016,
Langit tak lagi sama.
Suara hujan tak lagi membuatku marah.
Hatiku mulai berdamai dengan angin yang senang sekali memporak-porandakan raga.
Juga dengan senja, yang tak lagi bisa kunikmati seperti biasanya.

Hampir saja sebelum itu aku memilih mati.
Kamu yang tiba-tiba memilih pergi tanpa permisi, sukses membuatku kehilangan harga diri.
Bahkan aku sampai berani menodong tuhan, agar kita segera bisa dikembalikan.
Hahaha.. hina sekali aku waktu itu.
Benar-benar hina.


Seringkali aku berharap seisi kepala berhenti menghadirkanmu. Memaknai arti perpisahan dengan sebenar-benarnya, tanpa berusaha memperbaiki setiap dosa. Tanpa berusaha, memperbaiki kita yang sudah tak lagi ada.

Aku memilih melampiaskan patah hatiku ini pada lelahnya dunia kerja.
Berangkat pagi, pulang malam.
Tak lagi berani menyediakan waktu untuk diriku sendiri.
Aku lebih memilih dicaci maki, disakiti karna perihal pekerjaan. Ketimbang harus dipaksa mengenangmu disela-sela waktu luangku.


Aku senang dengan lelah.
Sebab ia selalu berhasil membuatku lupa.
Lupa akan rasanya diabaikan, lupa akan rasanya pengkhianatan, dan ia selalu berhasil membuatku melupaimu.

Susah payah aku berada di titik ini.
Dan memang harus ku akui,
Beruntung sekali waktu itu kamu pergi dan lupa caranya untuk kembali.
Jika bukan karna ingin melupaimu? Aku mungkin masih duduk diam dan menungguimu di belakang sana.

Hanya bisa berharap, berharap, dan berharap.
Namun akhirnya, .. dikecewakan juga

Comments

POPULER OF THIS MONTH